I start to understand that LOVE isn't as complicated as it seems. Cinta adalah kata kerja aktif. Artinya, kitalah yang melakukan, yang merasakan, yang berjuang untuk itu. Berhentilah berpikir tentang untung rugi, terbalas atau tidak. Allah saja mencintai kita tanpa peduli kita akan membalas dengan proporsional atau tidak. Ibu kita pun tak peduli, kita akan membalas semua jerih payah cintanya dengan setara atau tidak (yang pasti, tidak akan pernah bisa sebanding).
Banyak orang berkata, cinta jaman sekarang tuh banyak syaratnya. Tanpa sadar, kita berpikir tentang: I'll love you if you love me too. I'll be friend with you if you do me a favor, or if you treat me well. Padahal setiap orang punya standar mencintai dan memperlakukan-dengan-baik yang berbeda-beda. Love doesn't mean i do what you want me to do exactly. Nope. It's a free air, an unclassified expression that varies unconditionally. It's not a bak-buk matter (bak-buk adalah impas, -red). Jangan melulu berpikir tentang take and give. Kalo ngasih, yaudah ngasih aja, lupain kayak kamu nglupain upil yang kamu cari susah payah cuman untuk kamu buang.
Beranilah mencintai tanpa syarat. Kepada ibu, bapak, diri sendiri, bahkan lumut yang berfungsi sekedar memberi aksen hijau pada tanah basah. It's a universal language. Be brave to believe that it's ok if the other side doesn't love us, we'll keep our feeling safe.
0
comments
Posted in
Labels:
story
Iseng-iseng nyoba posting di blogger, alhamdulillaah bisa. Yeah yeah yeah. Now i am back! I am going to tell you a lot of stories from here, you may get inspired, or bored, whatever, i can't be stopped. :p
0
comments
Posted in
Labels:
hidup,
koas,
pengalaman,
story
Setiap hari rasanya berlalu begitu cepat. Kalo seseorang pernah bilang, ini seperti tanda-tanda kiamat, ketika kita merasa waktu bergulir begitu cepat. Sama seperti sekarang ini. Begitu banyak tugas yang mengantri. Belum dikerjakan. Begitu banyak amanah, dan kepercayaan yang harus digenggam. Ga sanggup sih, tapi tak ada pilihan lain. Sekarang sebenarnya kembali lagi pada diriku sendiri.
Bagaimana aku harus bisa mengatur waktu dan mengalokasikannya untuk semua kewajiban harian. Bagaimana aku harus tetap merasa enjoy dan menikmati setiap detiknya. Untuk itu aku perlu mencari motivasi.
Satu-satunya motivasi yang terlintas dalam benakku adalah ibuku. Dialah yang memberikan senyuman terindah, semangat terbesar, dan cinta tertulus. Aku masih sanggup berada di Salatiga dengan baik, terutama adalah karena dia. Meski setiap detik rasa rindu datang menyergap, selalu ada cara untuk mengobatinya.
Aku mencuci, sembari teringat betapa telatennya ibu di rumah merawatku dulu. Aku menyeterika, sembari terngiang nasihat ibu setiap hari dulu. Aku menata kamar, sembari terbayang suara omelan ibu setiap kali aku nakal. Semua pekerjaan rumah itu aku lakukan hanya untuk mengobati rindu, tak lebih. Bukan karena kiriman bulanan yang sedikit, bukan karena aku terlalu rajin. Inilah obat rindu itu.
Dan too many things to do, membawaku kembali ke realita bahwa aku adalah grown up yang memikul semua tanggung jawab dan akibat di atas pundakku. Aku tak berani bilang betapa berat sesungguhnya, untuk apa? Orang yang mendengar pun tak akan mampu mengurangi. Yang bisa kulakukan hanyalah menjalaninya. Setiap pagi terbangun dengan rutinitas follow up, visite, dan jaga. Dan beberapa kewajiban lain yang secara sadar diri harus kukerjakan setiap harinya seperti shalat, mengaji, terutama belajar. Tugas-tugas terus merubung, pegal dan lelah rasanya. Aku sampai khawatir kakiku lepas saking seringnya digunakan berjalan, jemariku pun sudah mulai tebal, saking kerapnya kami menulis. Dan otakku? Sudah panas sejak dulu.
Yang kukatakan pada diriku, dan seharusnya selalu kukatakan setiap saat, adalah semua ini pasti akan ada akhirnya. Jika aku kuat dan tegak di atas kakiku sendiri seberapa pun kuatnya angin berhembus, akhirnya akan manis terasa. Aku tahu ini benar. Dan aku percaya. Dan aku akan selalu bersemangat,, though too many things to do.
:) :) :) :)
0
comments
Posted in
Labels:
anatomi,
asisten,
cerita,
cerpen,
kedokteran,
kisah,
story
0
comments
Posted in
Labels:
bukan,
cerpen,
diary,
kedokteran,
kisah,
mahal,
story,
tangan,
tuhan
0
comments
Posted in
Labels:
story
Lelah. . Itulah yang kurasakan di penghujung hari. Dengan kondisi tubuh kurang fit, hari ini aku menghabiskan 6 jam dalam aktivitas-aktivitas yang membuatku tercenung. Ya. Jualan itu sulit.
Bagi orang sepertiku, bank relasi itu belum begitu banyak. Dan hari ini aku belajar bahwa buruh dengan gaji perjam tak sampai 1000 itu ternyata memang ada.
Aku ingin menangis dan menyerah.
Jika misalnya aku mengajar privat dan terkadang mendapat bayaran 35.000-40.000 sekali pertemuan, itu adalah jumlah yang sangat harus kusyukuri.
Terkadang sehari aku ngajar 3 anak dan mendapat 100ribu lebih selama 5 jam, merupakan jumlah yang banyak dibanding 6 jam hari ini yang habis dalam kelelahan semata.
Kata ibuku, harga seseorang dilihat dari ijazahnya. Ternyata, di dunia ini, memiliki ijazah dan prestasi yang baik dalam dunia akademik memang penting bagi orang yang memutuskan memasuki dunia akademik.
Begitu pula dalam dunia kerja. Apabila seseorang memiliki kreativitas dan inovasi tinggi dengan keterampilan baik, tentu bekerja adalah kepuasan tertinggi karena gaji yang akan ia dapat juga baik.
:)
Do the best!

