twitter



Tangisan pilu memecah tengah malam. Meratap-ratap. Memohon-mohon. Kuselidiki, siapa yang sedang menangis, dan untuk apa dia menangis, serta kepada siapa dia menangis. Aku, hansip kampung ini, tidak asing lagi dengan suara ini.
Aku berjalan pelan-pelan, jangan sampai membangunkan bahkan semut yang sedang terlelap. Lalu, sampai di depan pintu rumah. aku berjalan ke salah satu jendela kamarnya. Lalu aku terhenyak, terpaku, menyimak.
“Tuhan. . tolong kembalikan dia. . Tuhan. .”lalu disela sedu sedan tak henti-henti.”Tuhan. . anak-anakku butuh makan. . anak-anakku butuh hidup normal. . anak-anakku butuh dia. .”
Lalu terdengar sedu sedan lagi.
Sepertinya si wanita itu berdo’a dalam sepi. Dia tidak berkata-kata lagi. Tangisannya putus-putus. Dan suaranya semakin serak hingga akhirnya habis. Airmatanya aku yakin pasti sudah mengering sejak dulu.
Ya. Betapa kasihan sekali nasibnya. Menurut pendapatku, sebaiknya dia cari suami baru saja alih-alih meratapinya tiap malam. Sungguh kurang kerjaan sekali.
Atau mungkin dia mau kunikahi?
Ah, tidak perlu bahas ide itu. Sudah basi. Dia tidak akan bergeming. Yang ada di pikirannya hanya suaminya yang tidak bertanggungjawab itu. Ingin kucincang dan kugorok lehernya kalau aku bertemu muka dengannya.
Wanita itu konon ditinggal suaminya begitu saja. Setelah sepuluh hari menikah. Dan diketahui si wanita itu telah mengandung anak si suami tidak punya perasaan itu. Ya. Lahir lah kembar tiga.
Aku tidak terlalu ingat nama ketiganya. Yang pasti, mereka bertiga adalah wanita pula. Cantik-cantik parasnya.
Ah. Kasihan sekali wanita itu. Sepuluh hari, bayangkan, hanya sepuluh hari. Ah. Aku jadi ikutan pusing nanti. Sudah. Lupakan saja.

23:03 waktu laptop
Singgasana emas.

0 comments:

Post a Comment

Ayoooo. . . . dikomen yaaa .. . . . .

Don't Ever Forget Why You were Born to This World!

Remember Your Creator, Your Majesty, Your Almighty, Your God, ALLAH in every single second you have. .